Langsung ke konten utama

Postingan

Duapuluh Juni kesembilanbelas :)

Hai, Nona Kecil Ini duapuluh-Juni ke sembilanbelas Sejenak lupakanlah perihal masalah-masalah nakal yang rupanya ikut merayakan, Berbahagialah untuk hari ini, kembangkan senyum termanismu.     Semoga menjadi wanita sholehah dan bidadari surga yang dicintai Allah     Semoga ibadahnya makin kokoh     Semoga menjadi kebanggaan mamah-kakak dan papah disisi-Nya     Semoga semakin sayang, semakin cinta, sama mamah-kakak dan semua keluarga     Semoga mimpi segera menjadi nyata     Semoga rencana yang tersusun rapi, berhasil dengan rapi juga     Semoga kali ini tidak terjatuh lagi     Semoga air matanya tidak (lagi) terjatuh karena hal yang sama     Semoga semakin tinggi badannya dan rendah hatinya     Semoga bertambah bijaksana     Semoga kesabarannya bertambah dan egoisnya berkurang     Semoga segera ...

mamah :')

mamah.. semua kata entah kenapa menjadi kehilangan fungsi tiap kali aku berusaha mendeskripsikannya. dia begitu istimewa, sosok manusia sempurna yang diberikan Tuhan untukku dan kakak-kakakku.. mamah.. anakmu ini seseorang yang tidak tahu malu. kerap membantah kata-katamu, sering sekali melawan nasihatmu. aku durhaka sekali telah membiarkan bulir-bulir air matamu itu jatuh ke pipimu :( maafkan aku, mah. sungguh maafkan aku :( mamah.. bahkan ketika itu, sebelum mamah pamit untuk pulang ke kampung, dan meninggalkanku dirantau sendirian, mamah yang meminta maaf duluan. aku .. dengan bodohnya hanya bisa diam dan tertawa cengengesan. sebab, jika aku ikut bicara, maka air mataku akan jatuh, aku akan menangis keras sekali, seperti saat menuliskan ini.. mamah.. kenapa mamah yang minta maaf ? mamah tidak pernah salah sekalipun. Ti-dak-per-nah. maafkan aku, mah.. maafkan aku yang seperti ini. maafkan karena aku belum menjadi anak yang mamah harapkan.. maafkan karena aku belum...

untitled 1

ini adalah suatu keadaan dimana aku tak bisa mempertanggung jawabkan perkataanku sendiri.. dimana aku bingung apa sebenarnya yang aku rasakan .. dimana aku tak tahu apa ini salah atau benar. dimana aku ingin orang memahami apa yang aku rasakan, tapi memahami saja percuma bahkan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.. aku tetap tertawa, tapi entah rasanya sedikit beda. aku ingin menangis, tapi entah menangis untuk apa dan siapa. aku ingin melupakan, tapi entah aku masih enggan tapi membutuhkan. aku ingin membenci, tapi entah aku tak bisa. aku ingin menghilang, namun aku ingin menemukannya lagi. aku, tak tahu harus bagaimana :(

Mungkin saja

karena kita mungkin saja sepuluh tahun lagi begitu ribut di dapur menyiapkan makanan home-made non msg untuk acara market day anak kita yang pertama, di pagi hari begitu sibuk meneriaki anak kedua untuk segera mandi dan sarapan, karena jam di dinding ruang keluarga sudah menunjukkan pukul 6.30 sambil melihat anak ketiga menonton film kartun entah berjudul apa yang kita pinjam di rental film dan belum juga dikembalikan, lalu kamu akan menyalakan mobil, berteriak lagi menyuruh semuanya masuk dan bergegas ke sekolah, sedangkan aku menutup pintu. menguncinya. pagi yang normal ya? membahagiakan. atau.. kita bisa saja sudah terpisah jauh, melakukan hal yang sangat berbeda. sendirian. *opo mbuh*

UNTUK DIRI SENDIRI

Kenapa kamu bisa serapuh ini? Kenapa kamu biarin diri kamu sebegini menyedihkannya ? Tolong, ini cuma dia! Ini cuma dia! Dia bukan siapa-siapa. Tidak seharusnya dia bisa bikin kamu menelan semua harga dirimu. Tidak seharusnya dia bisa bikin kamu susah mengenali dirimu sendiri.. Apa? Sakit? Aku tau! Demi Tuhan, aku tau! Tapi, ayolah. Kalau kamu mau menyembuhkan sakitnya, berhenti menabur garam di atas lukamu. Berhenti membenci pemberi luka yang membuat kamu menangis. Hanya berhenti.. Lukamu sudah cukup sakit, bukan? Apa lukamu kurang dalam sampai kamu merasa perlu menambahkan sayatan? Apa kamu tidak merasa muak dengan dia yang meninggalkan luka menjijikkan itu, sampai kamu masih saja merasa perlu untuk menangisi saat lukamu berdenyar ? Simpan saja sedihmu sendiri. Bagi sedikit dengan orang-orang terdekatmu, orang-orang kepercayaanmu. Orang yang akan ikut merasakan, bukan nantinya malah menertawakan. Setelah disakiti sebegitunya, kamu masih mengijinkan dia untuk menertawakan? Kamu ...

Nak, Ibu Ingin Bicara Soal Memilih Perempuan

Rasanya hampir tidak dapat dipercaya sekarang ibu menulis soal ini kepada dua anak laki laki yang sangat membanggakan hati. Ibu tidak bisa lebih bersyukur atau meminta kepada Tuhan memperoleh putra yang lebih baik daripada kalian. Kalian bertiga adalah anugerah terbesar dan terindah yang Tuhan berikan kepada ibu. I could never ask for more… Membesarkan kalian adalah masa masa terindah dalam hidupku, sekalipun itu harus ditukar dengan prospek perkembangan karir, ibu bahagia memilih menjadi ibu rumah tangga dan menyaksikan kalian tumbuh. Pada akhirnya ibu harus bicara soal jodoh, mengingat saat ini kalian sudah cukup pusing dikejar kejar cewek yang tentu saja mengagumi kualitas yang ada dalam diri kalian. You were brought up with lots of love and values from your parents. Never forget that. Rasanya ibu tidak harus panjang lebar mengulang kembali bagaimana menjadi laki laki sejati . Satu kalimat sederhana mampu mengungkapkan petuah panjang soal itu : Contohilah ayahmu. ...