Langsung ke konten utama

Berkunjung ke dada Ibu

Aku ingin pulang dan tersesat di dalam dada ibu. 
Menerka-nerka isi kepalanya segala hal sedang ditimbang agar rencana tak tumbang begitu saja. Menerjang badai dalam lautan tenang dadanya.

Aku ingin pulang ke rumah menghirup aroma bumbu dari dapurnya. Terong balado, daging rendang atau keperihan tentang masa lalu. ketika aku bersedih dan tak ada satu orang yang rela berbagi, aku ingin sekali memeluk ibu. Tetapi tangan dan angan-anganku tak sanggup menjangkaunya.

Aku ingin sekali mengadu kepada ibu. Tentang kepedihan hidup, orang-orang yang tak ingin tahu perasaanku dan ketakutan-ketakutan hari esok. Mengadu layaknya anak kecil yang merengek kepada ibunya karena diganggu oleh teman sekolahnya. Sayangnya pelajaran tentang bertahan hidup tak pernah kutemui di sekolah mana pun.

Sungguh aku ingin menceritakan segala keluhan tentang lelaki yang pernah kau kenal itu, Ibu. Namun setelah kepergiannya tak ada lagi yang tersisa kecuali rasa sakit yang sulit dicabut. Hanya itu yang bisa kuceritakan kepadamu.

Aku adalah satu-satunya anak durhaka yang tidak tahu cara mengucapkan maaf dan terima kasih kepada ibu. 
Aku menuliskan puisi ini untuk ibuku. 
Di setiap kalimat hanya berisi tentang aku dan ibu. 
Meskipun tak pernah kukatakan langsung kepadamu, percayalah di antara keduanya terselip kata cinta.

dari anak gadismu, yang mencoba mencari jati dirinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah mencintaimu harus sesakit ini ??

 Tahukah kamu, bahwa mungkin aku adalah satu-satunya wanita yang masih bertahan ketika aku tahu bahwa cintaku telah kau khianati ? Tahukah kamu, bahwa mungkin aku adalah wanita yang rela tersakiti demi mempertahankan hubungan kita ?? Aku, aku adalah wanita yang rela menahan pedih ketika keegoisanmu muncul ,, Aku adalah wanita yang menerimamu apa adanya ,, Tahukah kamu ??? TAHUKAH KAMU ?????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Aku seakan-akan ingin berteriak dihadapan mu ! tolong sadar ! aku adalah wanita yang selalu mencintaimu dengan tulus, mencintai segala kekuranganmu ! Terkadang aku berfikir, kenapa aku bisa mencintaimu ??? seseorang yang jelas2 bukan termasuk dalam tipe pangeran idamanku, bukan hanya aku yang bertanya, bahkan semua orang bertanya kenapa aku bisa mencintaimu ?? dan aku hanya bisa menjawab " aku mencintaimu tanpa alasan", ya, aku mencintaimu tanpa alasan. pelampiasankah ?? TIDAK ! aku memang pernah mencintai seseorang sebelum kamu, dan aku memang ...

Samudera Penghujung Desember

Malam ini masih seperti malam yang sama dengan tahun-tahun lalu. Sudah lebih dari satu tahun dari terakhir kali kita bertemu, namun kenangan itu masih tak mampu bergeser dari ingatan ku. Segala cara telah ku lakukan agar bisa mengikhlaskan dan perlahan melupakan. Benar kata orang, “Ketika kau patah hati. Biarkan hati mu beristirahat, jangan mencoba membukanya untuk yang lain. Karna jika itu terjadi hanya ada dua kemungkinan : kamu terus membandingkan sosok baru dengan sosok lama, atau kamu akan mendapatkan patah hati ganda”. Dan aku mengalami hal yang pertama. Aku menjadi pembanding yang menyeramkan bahkan untuk diri ku sendiri. Padahal aku tahu, membandingkan adalah hal buruk, bahkan sangat hina menurut ku. Karna aku pun sangat benci dibanding-bandingkan. Ah iya, mungkin kamu bukanlah Samudera, melainkan Angin Topan. Karena kamu menerbangkan ku tinggi bahkan terlalu tinggi, dan saat itu pula kau menjatuhkan ku ke bumi. Di penghujung Desember ini, tak akan lagi...

The truth about someone who left

Mereka bilang, “Enak ya jadi pihak yang mutusin, gampang, gak perlu mohon-mohon buat mempertahanin hubungan.” Aku bisa bilang kalau apa yang mereka katakan itu salah. Menjadi pihak yang memutuskan untuk pergi itu tidak enak. Sama sekali. Jika ada yang bertanya, lalu mengapa dilakukan? Aku akan menjawab karena aku tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi.  Lalu aku mendengar banyak orang yang menyesal karena mereka yang diputuskan duluan, mengeluh kenapa bukan mereka yang memutuskan lebih dulu. Aku benar-benar ingin berteriak kepada mereka bahwa sungguh, tidak enak memutuskan duluan. Mereka tidak mengerti kalau meninggalkan itu lebih susah daripada ditinggalkan. Sama saja sakitnya dengan ditinggalkan. Tapi tidak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja, karena orang yang memutuskan pergi harusnya tidak kenapa-kenapa, bukan? Mereka tidak tahu bahwa sulit sekali berpura-pura bahwa aku sudah tidak peduli saat aku mematahkan hati dan menghancurkan mimpi-mimpinya....