Langsung ke konten utama

CeritaJika #56 : Jika Istrimu Seorang Guru

Biasa saja. Iya memang tidak ada yang istimewa atau aneh dengan profesi guru. Seseorang yang berusaha mendidik calon – calon pemimpin bangsa menjadi manusia. 
Bahkan, tidak sedikit ‘katanya’ ibu mertua yang berharap mendapatkan menantu seorang guru karena lebih banyak memiliki waktu luang untuk mengurus keluarga. Apakah ibumu salah satunya, sayang?
Jika bukan, apakah kamu sanggup meyakinkan ibumu bahwa aku adalah wanita yang tepat menjadi partner hidupmu?
Taruhlah ibumu adalah seorang fanatik yang memegang prinsip bahwa seorang istri haruslah memberikan seluruh waktunya untuk keluarga: ibu rumah tangga, apakah kau yakin bisa meluluhkan hati ibumu agar mau berstatus mertuaku?
Bagaimana kau akan meyakinkannya sementara rumor yang beredar adalah seorang guru terlalu sibuk mengurusi anak banyak orang sehingga anaknya kurang mendapat perhatian.
Atau kita anggap kau sangat pintar sehingga berhasil mengambil hati ibumu. 
Selanjutnya kau dan aku akan mulai membangun bahtera rumah tangga dengan profesi kita masing – masing. Sekarang masalahmu bukan pada ibumu, tetapi ada padaku. 
Seorang guru yang menjadi istrimu nanti ini bukanlah seorang guru seperti yang lainnya. Mungkin aku adalah seorang yang berpura – pura menjadi guru. 
Karena bukan ini yang aku inginkan, aku menjadi guru hanya agar sejalan dengan studi yang aku ambil saat ini. Sebenarnya aku pun tidak pernah berharap menjalani studi ini, karena satu dan lain hal terpaksa aku ada di sini.
Kelak, mungkin kau akan mendengar keluhanku setiap kali pulang mengajar, atau bahkan kau akan menjadi sasaran luapan emosiku yang tertahan saat di sekolah. Karena saat aku menjalani profesiku tentu aku berusaha tampil sempurna, menjadi seorang wanita keibuan, yang perhatian dengan perkembangan setiap siswa, yang penyabar dalam menghadapi tingkah laku setiap siswa betapa pun menyebalkannya.
Kasarnya mungkin aku bermuka dua.

(Calon) Suamiku sayang, bagaimana? Bagaimana jika aku adalah guru seperti itu? 
Sanggupkah kau bersabar mendengar setiap keluh kesahku, menjadi satu – satunya penyemangat yang bisa meyakinkan bahwa aku memang layak menjadi seorang guru, dan menuntunku belajar ikhlas untuk menjalankan profesiku?
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
pengirim cerita :
Rini Fajrin
Mahasiswi Pendidikan Matematika – UPI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah mencintaimu harus sesakit ini ??

 Tahukah kamu, bahwa mungkin aku adalah satu-satunya wanita yang masih bertahan ketika aku tahu bahwa cintaku telah kau khianati ? Tahukah kamu, bahwa mungkin aku adalah wanita yang rela tersakiti demi mempertahankan hubungan kita ?? Aku, aku adalah wanita yang rela menahan pedih ketika keegoisanmu muncul ,, Aku adalah wanita yang menerimamu apa adanya ,, Tahukah kamu ??? TAHUKAH KAMU ?????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Aku seakan-akan ingin berteriak dihadapan mu ! tolong sadar ! aku adalah wanita yang selalu mencintaimu dengan tulus, mencintai segala kekuranganmu ! Terkadang aku berfikir, kenapa aku bisa mencintaimu ??? seseorang yang jelas2 bukan termasuk dalam tipe pangeran idamanku, bukan hanya aku yang bertanya, bahkan semua orang bertanya kenapa aku bisa mencintaimu ?? dan aku hanya bisa menjawab " aku mencintaimu tanpa alasan", ya, aku mencintaimu tanpa alasan. pelampiasankah ?? TIDAK ! aku memang pernah mencintai seseorang sebelum kamu, dan aku memang ...

Samudera Penghujung Desember

Malam ini masih seperti malam yang sama dengan tahun-tahun lalu. Sudah lebih dari satu tahun dari terakhir kali kita bertemu, namun kenangan itu masih tak mampu bergeser dari ingatan ku. Segala cara telah ku lakukan agar bisa mengikhlaskan dan perlahan melupakan. Benar kata orang, “Ketika kau patah hati. Biarkan hati mu beristirahat, jangan mencoba membukanya untuk yang lain. Karna jika itu terjadi hanya ada dua kemungkinan : kamu terus membandingkan sosok baru dengan sosok lama, atau kamu akan mendapatkan patah hati ganda”. Dan aku mengalami hal yang pertama. Aku menjadi pembanding yang menyeramkan bahkan untuk diri ku sendiri. Padahal aku tahu, membandingkan adalah hal buruk, bahkan sangat hina menurut ku. Karna aku pun sangat benci dibanding-bandingkan. Ah iya, mungkin kamu bukanlah Samudera, melainkan Angin Topan. Karena kamu menerbangkan ku tinggi bahkan terlalu tinggi, dan saat itu pula kau menjatuhkan ku ke bumi. Di penghujung Desember ini, tak akan lagi...

The truth about someone who left

Mereka bilang, “Enak ya jadi pihak yang mutusin, gampang, gak perlu mohon-mohon buat mempertahanin hubungan.” Aku bisa bilang kalau apa yang mereka katakan itu salah. Menjadi pihak yang memutuskan untuk pergi itu tidak enak. Sama sekali. Jika ada yang bertanya, lalu mengapa dilakukan? Aku akan menjawab karena aku tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi.  Lalu aku mendengar banyak orang yang menyesal karena mereka yang diputuskan duluan, mengeluh kenapa bukan mereka yang memutuskan lebih dulu. Aku benar-benar ingin berteriak kepada mereka bahwa sungguh, tidak enak memutuskan duluan. Mereka tidak mengerti kalau meninggalkan itu lebih susah daripada ditinggalkan. Sama saja sakitnya dengan ditinggalkan. Tapi tidak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja, karena orang yang memutuskan pergi harusnya tidak kenapa-kenapa, bukan? Mereka tidak tahu bahwa sulit sekali berpura-pura bahwa aku sudah tidak peduli saat aku mematahkan hati dan menghancurkan mimpi-mimpinya....