Langsung ke konten utama

Postingan

Global Education Network (GEN)

Article 1 Technology and Global Education; The Present and the Promise James Veitch and Pi-Kuei Tu; University of North Carolina, Chapel Hill New technologies and telecommunications networks have dramatically transformed all facets of life, from medicine to agriculture, entertainment to politics, and economics to service industries (Milken Foundation, 1999). These developments represent a watershed of opportunity. Access to information, and therefore knowledge, is becoming increasingly available to citizens in many countries where access was formerly enjoyed only by a privileged few. They also present challenges in many forms (Hallberg and Bond, 1996).   This paper examines the opportunities and challenges associated with technology in the delivery of education worldwide, with a focus otutorsloping countries. Most observers acknowledge that there are barriers associated with technology acquisition and use, no matter what the intended purpose. The Milken Foundatio...

Nostalgia II

Nostalgia seorang anak perempuan lugu pemberani. Gadis kecil yang gemar berceloteh manja. Bermain di lapangan merupakan kegemarannya. Bermain atau menonton badmiton itu biasa. Ia hanya ingin menjadi wasit badminton. Duduk di kursi tinggi menjadi juri. Ia gadis kecil nan pemberani. Belajar sepeda, jatuh pun tetap tertawa. Padahal lututnya berdarah, jelas ia terluka. Katanya tak ingin buat mamanya khawatir. Ia adalah anak kecil kesayangan papanya. Juga gadis pipi melon kesayangan mamanya. Yang jika bermain tak kenal lelah. Tanpa takut terluka, cerita tanpa celah. Bahagia tanpa jeda, cinta yang menguatkannya. Hidupnya selalu dibekali doa. Sepeda pertamanya, juga kursi wasit badmintonnya. Pada lapangan itu, semua kenangan terpadu. Pada orang-orang yang kala itu menemaninya. Sungguh, ia teramat rindu. Aku, generasi yang lahir tahun 90-an. Kami memiliki ritual wajib setiap minggu pagi. Yaitu menonton film kartun seharian. Jika tidak dilakukan, sedih rasanya. Aku tak pernah absen menonton...

Midnight Thoughts

00.00 Aku selesai berkemas, Sayang. Kenyataan, bahwa aku tak lagi kamu inginkan, kini begitu meyakinkan. Dan aku masih begini; masih seperti aku yang kamu tahu. Ialah aku, yang selalu sanggup mengabulkan keinginanmu. Termasuk, menyakitiku. Tentu saja, luka bukan sesuatu yang menakutkan bagiku. Bahkan, pedihnya terkadang menjadi lucu. 00.05 Ingat? Ingatanku dapat merawat beragam rasa dengan baik. Aku belum lupa, rasa ketika karenamu, aku berani melawan satu adiksi; membunuh apapun yang terasa tak baik-baik saja, bahkan ketika aku sedang baik-baik saja. Hingga kini, aku akan menikam apa pun yang membuatku ingin menyentuhmu lagi. Sayang, kamu tahu? Aku tak tahu, padamu, aku mampu segila ini. 00.10 Maka, baiklah. Aku akan pergi. Kota yang kamu benci, akan aku tinggali. Ah, apakah itu penting? Tentu tidak. Bagimu, cukup tahu, aku sudah berlalu dari sini. Ke mana pun. Asal tak lagi ada kita di mana pun. 00.15 Dan, baiklah. Akan kujaga kondisiku sebaik mungkin. Agar aku mampu ber...

Pesan (yang mungkin) Terakhir Untukmu

Aku ingin menceritakannya sekali lagi, rasa yang begitu indah ini kian menyusut bersama gemericik hujan di Februari ini. Tiga bulan sejak aku mengawali kesendirianku. Aku berpijak menghentakkan kaki dibumi berharap semua harap dan rasa cinta ini bisa sirna seketika. Aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan selama tiga bulan ini setelah kepergianmu. Keputusan ku sudah bulat, maaf aku meninggalkanmu.   Tuan, tegarlah. Pilih jalan yang benar ketika kamu sudah mempunyai rumah singgah yang baru. Meski tidak seindah rumah ku dulu yang penuh dengan kenyamanan tapi ku doakan semoga kamu pun bisa merasa damai didalamnya. Jangan hiraukan diriku, tuan. Aku pun bahagia dengan keputusan ku ini. Aku melangkah bersama bayangmu dan gerakgerik mu yang masih menghantui. Pernah suatu malam kau bilang bahwa kau masih mencintaiku, aku pun sudah mati rasa mendengar ucapan mu itu. Entah mengapa hati ini bisa semudah mati ketika mengingat dirimu. Sudah tidak ada lagi peduliku u...

Tenggelam

Ada yang tengah berusaha aku tenggelamkan dengan sungguh-sungguh ke dasar hatiku, yaitu perihal kau dan kenangan ketika bersamamu. Untuk melupakanmu, aku mungkin tidak akan pernah benar-benar mampu.  Kau, dengan segala yang ada padamu; kurang dan lebihmu, pernah begitu aku beri ruang untuk dengan leluasa bergerak sesukamu. 
 Kau tahu berapa tinggi gengsi yang harus kuturunkan dengan paksa demi bertahan mendampingimu? Kau tahu berapa besar ego yang harus aku kerdilkan demi bertahan menghadapimu segala ke-aku-anmu? Ah, Sayang, tak perlulah kujelaskan atau kusebutkan.  Nanti kau kira aku tidak benar-benar ikhlas melakukannya.  Biarlah nanti kau merasakannya sendiri, ketika tidak kau temukan lagi perempuan seperti aku ini. Aku menenggelamkan kau, bersama dengan banyak cita-cita yang sebelumnya kupikir kita bisa untuk berenang bersama untuk meraihnya, tapi ternyata tidak. Aku menenggelamkan kau, bersama dengan banyak cinta yang sebelumnya kubiarkan tum...

Berhentilah Mendobrak

Kapan kau akan berhenti mendobrak pintuku? Tidakkah kau sadar semakin keras doronganmu, semakin besar kerusakan yang terjadi padaku? Tak ku pungkiri pintu ku yang sudah tertutup rapat ini, sudah mulai kaku oleh dingin malam yang setia menyelimuti. Mengapa kau begitu ingin masuk kedalam ruang kosong nya? Jujur, ruang itu belumlah begitu kosong Sampah kenangan, coretan kesedihan, bahkan lukisan keindahan masih ada didalamnya, hanya saja, penempat lamanya sudah pergi. Aku tidak tahu kapan ia kembali, yang ku tahu, kunci ada padanya. Tapi dengan segala kemungkinan, kau masih kekeuh dengan pendirianmu, mendobrak pintuku. Tak inginku bohongi..Aku sudah goyah. Pertahanan yang ku jaga selama ini mulai melemah. Kau mendobraknya begitu bersemangat tanpa sadar kau sudah terluka. Maafkan, aku tak ingin lebih rusak Aku ingin kau mundur Obati Lukamu Bukan aku menunggunya yang masih memegang kunci. Bukan pula menolakmu untuk masuk. Tapi carilah, atau mungkin re...

Nostalgia I

PROLOG Akan aku ceritakan sebuah kisah. Ah, bukan. Tapi banyak kisah. Tentang mereka yang merindukan masa kecilnya. Masa di mana sakitnya terjatuh hanya di lutut, bukan di hati. Masa di mana ritual marathon kartun di Minggu pagi adalah perihal wajib yang harus ditaati. Masa di mana bermain, berlari, berpetualang ke sana-ke mari adalah hal yang paling menyenangkan. Namun, tidak semua kisah dapat ditertawakan. Tidak sedikit dari mereka yang juga merasa ditinggalkan, merasa terasingkan perannya sebagai seorang manusia kecil, juga merasakan hal-hal tersulit dalam hidupnya ketika masih belum mengerti apapun. Itulah kenangan. Tidak melulu manis. Namun, mereka sudah tergaris. Dalam hidup.  *** Hari ini aku memasuki akhir Desember. Musim hujan datang berirama merdu. Hujan turun, rintiknya memberi isyarat kenangan. Aku berdiri di depan rumah menatap langit. Hujan yang sangat kurindukan. Aku suka hujan, rintiknya membelai wajahku. Membasahi tubuhku  juga kenangan masa lal...