Langsung ke konten utama

Postingan

Bagaimana Bisa?

Bagaimana bisa aku melepas, sedangkan melihat kau dengan yang lain aku belum ikhlas? Bagaimana bisa merelamu pergi, sedangkan segalamu masih saja membayangi? Bagiamana bisa aku katakan aku masa bodoh soal kamu, sedangkan aku masih jadi orang nomor satu yang ingin tau perihal kamu? Bagaimana bisa aku melupa, sedangkan kamu dalam ingatanku masih begitu kentara? Bagaimana bisa aku bilang tak cinta, sedangkan dalam hatiku kamu masih jadi yang mulia raja? Bagaimana aku bisa membohongi rasa, sedangkan padamu Lanang, segala kasih kuberi cuma-cuma? Bagaimana bisa aku pura-pura tak ada rasa, sedangkan semua perhatian aku berikan tanpa perlu kau minta. Bagaimana bisa aku menyembunyikan rindu Lanang, sedangkan padamu sedetik saja kamu berlalu rindu datang menyerbu? Bagiamana bisa aku aku berlari pergi, sedangkan bagiku kamu adalah kaki kiri? Bagaimana bisa aku berhenti menanti, sedangkan datangmu kembali aku yakin sekali? Bagaimana bisa aku katakan tanpamu aku akan tetap ba...

Menangkan, Puan!

Dilahirkan menjadi seorang perempuan adalah kebanggaan. Kebanggaan untuk menjadi makhluk yang merdeka, makhluk yang bebas berpikir, bebas bertindak, bebas memilih, dan bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Di kepala perempuan, tertanam ide-ide maha cemerlang, tertanam kemauan maha kuat untuk terus belajar, tertanam banyak hal maha gila yang sayangnya hanya tersimpan dalam kotak kecil usang yang kuncinya entah ada dimana hanya karena budaya yang tak benar. Budaya-budaya usang ketinggalan zaman yang membatasi kemerdekaan perempuan. Budaya-budaya yang membolehkan untuk mencibir perempuan-perempuan yang berani, yang percaya diri, yang berpikir, yang belajar, yang mengejar cita-citanya yang jauh lebih tinggi dari pengetahuan si pencibir. Budaya-budaya yang akhirnya berhasil membuat banyak perempuan lupa kemerdekaannya sendiri. Jangan mau kalah. Terbanglah. Menjadi bebaslah sebab kau pantas mendapatkannya. Jangan mau berhenti belajar hanya karena “katanya” perempuan itu tak...

Pada akhirnya

Pada akhirnya, aku tidak akan memperdulikan lagi: apakah kamu lebih muda atau lebih tua, apakah kamu lebih tinggi atau di bawah pendidikanku, apakah kamu sudah mapan atau sedang berusaha ke sana. Karena pada akhirnya aku hanya ingin kamu: tetap menyayangiku meski aku tidak sesempurna yang kamu harapkan, tetap menguatkanku sepayah apapun kondisi yang kelak kita hadapi, tetap memilihku meski kau temukan orang lain yang lebih baik dariku dalam segala hal. Pada akhirnya, aku masih akan jadi perempuan yang cengeng, cerewet, dan sulit dimengerti.  Tapi aku tidak ingin membuatmu lelah menghadapi kerapuhanku.  Dan aku tau kamu akan tetap pelupa, cuek, dan ceroboh.  Tapi aku tidak ingin lelah mengupayakan kebahagiaanmu. Karena pada akhirnya, cinta hanyalah: tentang dua orang yang tidak membiarkan salah satunya lebih banyak berusaha, tentang dua orang yang tidak berniat meninggalkan salah satunya di masa sedih, tentang dua orang yang tidak malu dan aka...

Mungkin sementara tapi semoga selamanya

Pada suatu masa, kurasa aku mati rasa. Hilang peka, serta segala hal bertemakan suka, cinta, dan apa apa yang kerap melengkapinya. Memilih untuk sendiri, -sebab bersama dengan seseorang dianggap terlalu riskan untuk kelak terluka lagi. Pada suatu masa, ku dapati aku mencumbui sepi hampir setiap hari. Kesepian menjadi teman. Hangatnya kebersamaan menjelma hanya sebatas impian. Imaji dan ilusi berlafadzkan kesendirian menyeruak tak dapat dikendalikan. Lalu aku menemukan kamu. Yang paras, rupa, tingkah laku, aroma, dan segala tentangmu hanya dapat membuatku terpaku. Lupa pernah terluka. Bergegas menjemput bahagia, berkemas dengan segera “ Mau kemana?” -  hampir seluruh panca indra dan logika bertanya. Mantap aku menjawab. “ Pindah, kini aku sudah menemukan rumah” “Hendak berapa lama disana?” -  giliran ragu dan ketakutan menguji segenap rasaku. Tak gentar aku menanggapi lagi  “Tidak sebentar, bukan hanya singgah. Mungkin sementara, tapi semoga selamanya” Kepa...

Yth. Masa lalu

Masa Lalu yang Aku Hormati, Sebelum aku berbicara panjang lebar, izinkan aku menulis sepotong sajak untukmu :   “Aku seringkali melihat bayanganku sendiri memelukmu. Tapi aku paham, sudah sejauh apa kita. Cuma bisa berharap suatu saat mesin waktu akan tercipta.” Masa Lalu yang Aku Hormati, Sepotong sajak di atas seolah berbicara bahwa tahun-tahun, bulan-bulan, dan hari-hari yang berlalu menjadi ujung atas kelelahanku sendiri, yang masih saja menunggu. Setiap teringat kamu, selalu ada kebahagiaan dan penyesalan, kesalahan dan kenangan. Masa Lalu yang Aku Hormati, Pada suatu waktu, aku membencimu… Mengapa? Sebab kamu, wahai masa lalu yang menyakitkan, selalu datang dalam mimpi-mimpiku cuma ingin membuka luka lama. Jadi untuk apa kamu hadir? Masa Lalu yang Aku Hormati, Berbaik hatilah sebentar, pergilah jauh. Atau perlu kumasukkan kau ke dalam kotak, lalu kubuang kuncinya, agar aku tidak bisa lagi membukanya? Hari demi hari yang bersimbah kenangan, di sanalah, p...

Masa lalu dan Masa kini

Masa kini seseorang itu dibagi dua: 1. Yang berusaha mencapai masa depan 2. Yang masih tenggelam di masa lalu. Kamu yang mana? Kalo kata orang-orang, jangan suka melihat ke belakang, nanti nggak fokus sama yang di depan. Masa lalu itu ibarat spion, yang boleh kita tengok sesekali tapi fokus kita tetep ke tujuan di depan kita. Jangan sampe keseringan liat spion, eh malah nabrak. Jangan sampe juga nggak pernah ngeliat spion, eh taunya ditabrak. Tujuan spion itu satu; biar kita hati-hati. Hati-hati menuju ke depan dan hati-hati menatap ke belakang. Masa lalu itu bagian dari diri seseorang yang nggak bisa dipisahkan, dilupakan, atau dibuang. Kalo kamu mencintai seseorang, terimalah ia bersama seluruh baik dan buruk kenangan masa lalunya. Dan jika kamu ingin dicintai seseorang, simpanlah masa lalumu sebagai sesuatu yang pernah kamu lewati dengan tawa dan tangis, suka dan duka, harapan dan asa, bukan membiarkannya mengganggu masa kinimu. Seringkali yang tidak kamu sadari adalah, k...