Langsung ke konten utama

Postingan

Jangan Menyalahkan Dirimu

Maaf. Untuk bahagia yang menghujani dadaku setiap kali aku mampu membuatmu tertawa.  Maaf pula untuk setiap degup tak beraturan tiap kali aku mencuri kecup di keningmu saat sedang terlelap. Maaf untuk setiap hal merepotkan yang aku lakukan, yang aku tak tahu lagi harus meminta tolong kepada siapa selain kepadamu. Jika aku mampu menuliskan ceritaku sendiri, lalu memerintahkan hati untuk jatuh cinta kepada orang yang aku pilih sendiri, tentu saja aku tak akan memasukkan namamu dalam hidupku.  Aku akan menulis sebuah cerita yang aku dan kau tidak pernah berjumpa.  Aku tentu akan memerintahkan hati untuk tak melihatmu sama sekali.  Menganggapmu sebagai seorang teman dan tidak menyisakan tempat di hati untuk peduli.  Aku akan menjadikan diriku sendiri sebagai tokoh utama perempuan yang mampu berjalan sendiri, mampu mencintai dirinya sendiri, dan tidak peduli pada luka-luka orang lain. Tapi kau dan aku sama-sama tahu, aku tak mampu menulis cerit...

Karena aku sangat mudah untukmu.

karena aku sangat mudah untukmu. kamu tidak perlu lelah-lelah berjuang, sebab aku tidak mungkin sampai hati membiarkan orang yang ingin memperjuangkanku berjuang sendirian. kamu tidak perlu repot-repot membuat dirimu diterima, sebab aku selalu bersedia mengambil tanggung jawab untuk lebih dari menerima–yaitu memaafkan, melupakan, bahkan melepaskan. kamu tidak perlu pusing-pusing memikirkanku, sebab aku sungguh selesai dengan diriku sendiri. sebab masa depanku adalah rangkaian rencana yang bisa diganti. sebab ambisiku selalu (hanya) sekeras tangan yang menggenggam pasir, secukupnya mencukupkanku. kamu tidak perlu khawatir tentang apapun, sebab aku bisa mengikutimu ke mana pun. aku bisa diajak berjalan, berlari, merangkak. aku bisa bertahan pada segala musim dan cuaca, bisa berteman dengan segala rasa dan nuansa. karena aku sangat mudah untukmu, semoga kamu merasakannya: bahwa yang mudah didapatkan, belum tentu tak berharga. semoga aku sangat berarti untukmu.

Bagaimana Bisa?

Bagaimana bisa aku melepas, sedangkan melihat kau dengan yang lain aku belum ikhlas? Bagaimana bisa merelamu pergi, sedangkan segalamu masih saja membayangi? Bagiamana bisa aku katakan aku masa bodoh soal kamu, sedangkan aku masih jadi orang nomor satu yang ingin tau perihal kamu? Bagaimana bisa aku melupa, sedangkan kamu dalam ingatanku masih begitu kentara? Bagaimana bisa aku bilang tak cinta, sedangkan dalam hatiku kamu masih jadi yang mulia raja? Bagaimana aku bisa membohongi rasa, sedangkan padamu Lanang, segala kasih kuberi cuma-cuma? Bagaimana bisa aku pura-pura tak ada rasa, sedangkan semua perhatian aku berikan tanpa perlu kau minta. Bagaimana bisa aku menyembunyikan rindu Lanang, sedangkan padamu sedetik saja kamu berlalu rindu datang menyerbu? Bagiamana bisa aku aku berlari pergi, sedangkan bagiku kamu adalah kaki kiri? Bagaimana bisa aku berhenti menanti, sedangkan datangmu kembali aku yakin sekali? Bagaimana bisa aku katakan tanpamu aku akan tetap ba...

Menangkan, Puan!

Dilahirkan menjadi seorang perempuan adalah kebanggaan. Kebanggaan untuk menjadi makhluk yang merdeka, makhluk yang bebas berpikir, bebas bertindak, bebas memilih, dan bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Di kepala perempuan, tertanam ide-ide maha cemerlang, tertanam kemauan maha kuat untuk terus belajar, tertanam banyak hal maha gila yang sayangnya hanya tersimpan dalam kotak kecil usang yang kuncinya entah ada dimana hanya karena budaya yang tak benar. Budaya-budaya usang ketinggalan zaman yang membatasi kemerdekaan perempuan. Budaya-budaya yang membolehkan untuk mencibir perempuan-perempuan yang berani, yang percaya diri, yang berpikir, yang belajar, yang mengejar cita-citanya yang jauh lebih tinggi dari pengetahuan si pencibir. Budaya-budaya yang akhirnya berhasil membuat banyak perempuan lupa kemerdekaannya sendiri. Jangan mau kalah. Terbanglah. Menjadi bebaslah sebab kau pantas mendapatkannya. Jangan mau berhenti belajar hanya karena “katanya” perempuan itu tak...

Pada akhirnya

Pada akhirnya, aku tidak akan memperdulikan lagi: apakah kamu lebih muda atau lebih tua, apakah kamu lebih tinggi atau di bawah pendidikanku, apakah kamu sudah mapan atau sedang berusaha ke sana. Karena pada akhirnya aku hanya ingin kamu: tetap menyayangiku meski aku tidak sesempurna yang kamu harapkan, tetap menguatkanku sepayah apapun kondisi yang kelak kita hadapi, tetap memilihku meski kau temukan orang lain yang lebih baik dariku dalam segala hal. Pada akhirnya, aku masih akan jadi perempuan yang cengeng, cerewet, dan sulit dimengerti.  Tapi aku tidak ingin membuatmu lelah menghadapi kerapuhanku.  Dan aku tau kamu akan tetap pelupa, cuek, dan ceroboh.  Tapi aku tidak ingin lelah mengupayakan kebahagiaanmu. Karena pada akhirnya, cinta hanyalah: tentang dua orang yang tidak membiarkan salah satunya lebih banyak berusaha, tentang dua orang yang tidak berniat meninggalkan salah satunya di masa sedih, tentang dua orang yang tidak malu dan aka...

Mungkin sementara tapi semoga selamanya

Pada suatu masa, kurasa aku mati rasa. Hilang peka, serta segala hal bertemakan suka, cinta, dan apa apa yang kerap melengkapinya. Memilih untuk sendiri, -sebab bersama dengan seseorang dianggap terlalu riskan untuk kelak terluka lagi. Pada suatu masa, ku dapati aku mencumbui sepi hampir setiap hari. Kesepian menjadi teman. Hangatnya kebersamaan menjelma hanya sebatas impian. Imaji dan ilusi berlafadzkan kesendirian menyeruak tak dapat dikendalikan. Lalu aku menemukan kamu. Yang paras, rupa, tingkah laku, aroma, dan segala tentangmu hanya dapat membuatku terpaku. Lupa pernah terluka. Bergegas menjemput bahagia, berkemas dengan segera “ Mau kemana?” -  hampir seluruh panca indra dan logika bertanya. Mantap aku menjawab. “ Pindah, kini aku sudah menemukan rumah” “Hendak berapa lama disana?” -  giliran ragu dan ketakutan menguji segenap rasaku. Tak gentar aku menanggapi lagi  “Tidak sebentar, bukan hanya singgah. Mungkin sementara, tapi semoga selamanya” Kepa...

Yth. Masa lalu

Masa Lalu yang Aku Hormati, Sebelum aku berbicara panjang lebar, izinkan aku menulis sepotong sajak untukmu :   “Aku seringkali melihat bayanganku sendiri memelukmu. Tapi aku paham, sudah sejauh apa kita. Cuma bisa berharap suatu saat mesin waktu akan tercipta.” Masa Lalu yang Aku Hormati, Sepotong sajak di atas seolah berbicara bahwa tahun-tahun, bulan-bulan, dan hari-hari yang berlalu menjadi ujung atas kelelahanku sendiri, yang masih saja menunggu. Setiap teringat kamu, selalu ada kebahagiaan dan penyesalan, kesalahan dan kenangan. Masa Lalu yang Aku Hormati, Pada suatu waktu, aku membencimu… Mengapa? Sebab kamu, wahai masa lalu yang menyakitkan, selalu datang dalam mimpi-mimpiku cuma ingin membuka luka lama. Jadi untuk apa kamu hadir? Masa Lalu yang Aku Hormati, Berbaik hatilah sebentar, pergilah jauh. Atau perlu kumasukkan kau ke dalam kotak, lalu kubuang kuncinya, agar aku tidak bisa lagi membukanya? Hari demi hari yang bersimbah kenangan, di sanalah, p...